Selasa, 06 April 2010

kalimat efektif

KALIMAT EFEKTIF



Kalimat Efektif adalah : kalimat yang dapat secara tepat mewakili pikiran
atau atau perasaan pihak penulis/pembicara serta
sanggup menimbulkan gambaran yang sama
tepatnya kepada pembaca /pendengar.

Syarat-syarat kalimat efektif :

1. Ketatabahasaan
2. Keterkaitan unsur
3. Penekanan
4. Kevariasian
5. Kesejajaran
6. Kesatuan
7. Kelogisan

1. Ketatabahasaan mencakup :
a) kedudukan subjek dan predikat yang jelas ;
b) ketiadaan subjek ganda;
c) ketiadaan kata sambung antarkalimat ;
d) ketidaksalahan penempatan keterangan aspek ;
e) ketidakrancuan penempatan aktif-pasif ;
f) ketidaktumpangtindihan rangkaian kata ;
g) ketidaksalahan pemakaian kata depan dan kata sambung;
h) ketidakrancuan pemakaian akhiran –kan dan akhiran –i;
i) ketiadaan kata-kata mubazir.

2. Keterpaduan (koherensi)
Maksudnya : keterkaitan antar unsur yang berupa subjek-predikat, objek,
dan keterangan.
 Contoh : Bapak Asmawi meninggalkan Jakarta bersama anak istrinya 
seharusnya Bapak Asmawi bersama anak istrinya meninggalkan
Jakarta.

3. Penegasan (penekanan)
Maksudnya : penonjolan ide pokok dari salah satu kalimat.
Penonjolan dapat dilakukan secara :
a. Permutasian;
b. Repetisi;
c. Partikel;
d. Pengontrasan
e. Kelogisan urutan;
f. Kevariasian

Keterangan 3a. Permutasian : pemindahan unsur kalimat yang dipentingkan
ke depan.
 Contoh : Utusan itu // sudah datang// pagi tadi.
Pagi tadi //utusan itu //sudah datang.

3b. Repetisi : pengulangan kata atau kelompok kata yang
dianggap penting dengan kata atau kelompok kata
yang sama dalam satu kalimat.
 Contoh : Demikian harapan kami dan demikian pula hendak-
nya harapan generasi muda.
3c. Partikel : sebagai pementing kata yang mendahuluinya.
Partikel yang demikian adalah pun, kah, lah.
3d. Pengontrasan : pertentangan ide pokok melalui kata atau
kelompok kata.
 Contoh : Dia pintar tetapi malas.
3e. Kelogisan urutan : uraian yang berupa rincian hendaknya
diurutkan secara logis. Urutan itu dapat
dilakukan dengan cara menaik (klimaks)
atau dengan cara menurun (antiklimaks).
 Contoh : Setiap tanggal 17 Agustus berkibarkanlah bendera
merah putih di istana negara, departemen, badan
usaha, kantor pemerintahan, dan pos keamanan.

3f. Kevariasian
Caranya : melalui kesinoniman atau pilihan kata dan variasi
dengan kalimat.
 Contoh : Akhir-akhir ini pemerintah DKI berusaha memper-
tebal disiplin masyarakat, warga kota, kelompok,
dan semua yang memakai jasa dan prasarana ibu
kota.

4. Kehematan
Maksudnya : pemakaian kata, frasa, klausa secara hemat sehingga tidak ada
satu katapun yang sebenarnya tidak diperlukan atau mubazir.

Kehematan dapat melalui :
a. Penghilangan pengulangan subjek, predikat, dan objek.
 Contoh : Mereka // siap belajar begitu // mereka // mengetahui ujian
tinggal seminggu lagi.
Mereka siap-siap begitu megetahui ujian tinggal seminggu
lagi.

b. Kehiperminan : penghilangan makna satuan yang sebenarnya tidak
diperlukan karena sudah tercakup dalam makna bagian
yang terdapat pada kata lain.
 Contoh : Toko Swalayan Tip Top gemerlapan oleh kemilau lampu
neon.
Toko Swalayan Tip Top gemerlapan oleh kemilau neon.














c. Penghilangan sinonim yang mubazir.
 Contoh : Seperti contoh itu pernah dikemukakan.
Contoh itu pernah dikemukakan.


5. Kesatuan : keselarasan hubungan antara penataan unsur kalimat dan
gagasan yang hendak dicapai penulis.
 Contoh : Dalam penyusunan laporan yang lengkap itu memerlukan
waktu dan tenaga yang tidak sedikit.
Penyusunan laporan yang lengkap itu memerlukan waktu dan
tenaga yang tidak sedikit.


6. Kesejajaran (paralelisme)
Maksudnya : kesamaan penempatan gagasan atau fungsi melalui konstruksi
kalimat.
Artinya : gagasan atau fungsi yang sama dinyatakan dalam struktur kalimat
yang sama pula.
 Contoh : Kalau dia bernyanyi, nada suaranya sering meninggi dan tiba -
tiba bisa turun.
Kalau dia menyanyi, nada suaranya sering meninggi dan tiba–
tiba bisa menurun.

7. Ketepatan ejaan dan pungtuasi
 Contoh : Berita itu telah disebar luaskan
Berita itu telah disebarluaskan.

8. Kelogisan
Kelogisan erat kaitannya dengan ketatabahasaan dan kesatuan gagasan yang hendak dicapai penulis. Apabila kesatuan gagasan kalimat terwujud melalui penataan ketatabahasaan, kelogisan kalimat dapat dipahami oleh pembaca.
 Contoh : Anda dilarang tidak boleh merokok di ruang ber-AC ini.
Anda dilarang merokok di ruang ber-AC ini.

kalimat

KALIMAT

Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan terdiri atas S dan P.

I.1 Persyaratan Kalimat :
(a) Kelengkapan struktur subjek dan predikat
(b) Permutasian subjek dan predikat
(c) Perwujudan makna gramatikal

I.2 Unsur-unsur sebuah kalimat:
 Contoh penjelasan (a) :
Anak itu sedang menangis

S – P + O



 Catatan : unsur keterangan dalam kalimat tidak mutlak. Oleh karena itu,
penempatan keterangan dapat dilakukan secara bebas.

 Contoh penjelasan (b) : Permutasian hanya antara S – P P - S
- Mereka belum kuliah Belum kuliah mereka
S P P S

Permutasian tidak dapat dilakukan dengan pola O–S–P dan pola S–O–P
Mereka mendiskusikan P4 bisa menjadi : mendiskusikan P4 mereka.
S P O P O S
Permutasian kalimat dilakukan antara S dan P dan tidak antara predikat dengan objek.
Contoh (c) : Kesatuan makna gramatikal
Maksudnya : didasarkan atas makna leksikal  makna leksikal masing-masing kata dalam kalimat mewujudkan kesatuan makna yang logis sekaligus menggambarkan perwujudan dan pikiran penulis atau pembicara.

Contoh : Kalimat yang tidak memenuhi makna gramatikal.
- Pisang ambon itu makan anak kecil.
- Dosen itu mengajar kewiraan di semester III.
- Jalan pikirannya itu kami belum jelas.

I.3 Unsur-Unsur Prinsip Dasar Kalimat
 Unsur-unsurnya: subjek, predikat, objek, dan keterangan
a. Subjek kalimat : unsur pokok kalimat yang akan diterangkan oleh
unsur predikat ; Subjek berupa kata benda atau yang
dibendakan.
 Ujian ditunda sampai minggu depan.
Kb
 Tingginya sama dengan saya.
yang dibendakan
Disertai kata ganti penunjuk itu, ini, dan tersebut yang ditempatkan antara subjek dan predikat.

Meja antik itu sebuah frasa
Jawaban pertanyaan apa yang dan siapa yang menentukan subjek
kalimat
Apa yang saya serahkan ?
Jawabannya : Laporan itu.
Siapa yang menyerahkan ?
Jawabannya : saya.
 Subjek tidak boleh didahului kata tugas, yaitu kata depan dan kata penghubung kecuali kata bahwa.
Kepada mahasiswa harap tenang  bukan kalimat efektif
Mahawsiswa harap tenang  kalimat efektif, karena subjeknya jelas.
 Subjek yang boleh didahului kata bahwa
Sudah kami ketahui bahwa dia tidak datang hari ini.
 Subjek dapat diberikan keterangan pewatas yang.
Icuk Sugiarto yang juara dunia bulutangkis tahun 1983 kalah lagi bertanding dengan Yang Yang.
 Subjek kalimat dapat dihilangkan dalam kalimat majemuk bila subjek kedua kalimat sama.
Mereka ingin pulang karena sudah terlalu letih.
Namun, apabila subjek kalimat pertama tidak sama dengan subjek kalimat kedua, subjek kalimat kedua harus disertakan.
Kampus Universitas Indonesia terletak di Depok sedangkan kampus IKIP masih berada di Rawamangun.




b. Predikat atau sebutan kalimat
Predikat adalah : unsur yang menjelaskan sebjek kalimat.
 Penanda predikat :
• Dapat berupa kata (kata benda, kata kerja, kata sifat, kata bilangan, dan kata depan).
Predikat ditempati oleh lima kelas kata/kelompok kata :
Predikat berupa kata benda atau frasa nomina.
Contoh : Mereka itu mahasiswa.
Predikat berupa kata kerja atau frasa verba.
Contoh : Mereka belajar di teras rumah.
Predikat berupa kata sifat atau frasa adjektiva.
Contoh : Mereka malas ke sekolah hari ini.
Predikat kata bilangan atau frasa numeralia.
Contoh : Kenaikan rata-rata 5%.
Predikat kata depan atau preposisi
Contoh : Utusan itu dari Jepang.
Jawaban pertanyaan mengapa dan bagaimana
Contoh : Mereka // sedang berdiskusi.  Pertanyaan yang tepat
mengapa mereka ?
Pertemuan itu // kurang menarik.  Pertanyaan yang tepat
bagaimana pertemu-
an itu.
Pertemuan dengan subjek : pertukaran tempat antara subjek dan
predikat dan bukan predikat dengan objek.
Contoh : Dosen itu / datang terlambat  Datang terlambat dosen itu.

 Dapat didahului kata keterangan aspek atau modalitas.
Contoh : Sedang berlangsung (duratif) seperti kata sedang, lagi
Sudah selesai berlangsung (perfektif) seperti kata pernah,
telah, sudah
Belum selesai (imperfak) : masih
Mulai berlangsung : mulai.
 Peran dalam predikat : mengungkapkan tiga informasi pernyataan, perintah, pertanyaan.
Peran pernyataan, dapat berupa : Frasa nomina, frasa adjektifa, numeralia, frasa preposisi.
• Peran perintah
• Peran pertanyaan


c. Objek kalimat : melengkapi kesempurnaan kalimt aktif transitif
d. Keterangan kalimat : keterangan tidak harus mutlak ada dalam kalimat.
 Keterangan dapat berupa kata, frasa, dan klausa.
Contoh : Sekarang Indonesia telah dapat berswasembada pangan.
(keterangan berupa kata)
Ujian tulis telah dapat dilaksanakan nanti sore pukul 16.00
(keterangan waktu berupa frasa)
Setelah mendengar berita dari kami, kecewalah dia.
(keterangan waktu berupa klausa).
 Keterangan yang berposisi bebas
Contoh : Di Indonesia hanya ada seorang wartawan Australia.
(keterangan di awal kalimat)
 Keterangan pengganti (aposisi)
• Penempatan dalam kalimat diapit tanda koma (,), tanda pisah (-), dan tanda kurung biasa ((…)).
• Berpotensi menggantikan unsur-unsur kalimat bila unsur-unsur kalimat itu ditiadakan.
• Bila dihilangkan, tidak mengurangi informasi kalimat.
Contoh : Perdana Menteri Birma, Ne Wien, akan mengundurkan diri
dari jabatannya.
Ne Wien, Perdana Menteri Birma, akan mengundurkan diri
dari jabatannya.
Catatan : kata yang digaris dapat dihilangkan.
 Keterangan tambahan
Contoh : Tiazara, mahasiswa semester VI fakultas ekonomi, terpilih
sebagai mahasiswi teladan tahun ini.
 Keterangan pewatas
Penanda keterangan ini dalam kalimat ditandai oleh kata yang
Contoh : Anak yang berpakaian seragam itu adalah siswa SMA.

jenis - jenis kalimat

Jenis-Jenis Kalimat

1. Kalimat Tunggal : kalimat yang terdiri atas satu subjek dan satu predi -
kat secara fakultatif ditambahkan objek predikat
transitif yang mengungkapkan satu gagasan utama.
2. Kalimat Majemuk : gabungan kalimat tunggal yang salah satu unsur
kalimatnya diperluas sehingga membentuk pola
kalimat yang baru.


a. Kalimat majemuk setara : mengandung dua gagasan utama.
Kalimat majemuk setara dihubungkan oleh kata sambung : dan, sedangkan, tetapi, melainkan, kemudian, lalu, atau dan tanda baca koma dan tanda titik koma.
Contoh : Kakak belajar (dan, atau, lalu, tetapi, (;) adik mengganggu)
b. Kalimat majemuk bertingkat : mengungkapkan satu gagasan utama yang dijelaskan oleh sebuah keterangan.
Kalimat majemuk bertingkat kata sambungnya : apabila, seandainya,
karena,sebab, untuk, sehingga, walaupun, meskipun, setelah, sebelum
dan sesaat.
Contoh : Harta bendanya disita karena hutangnya banyak di bank.
c.Kalimat majemuk campuran : kalimat majemuk setara ditambahkan
anak kalimat.
Contoh : Karena kemungkinan kredit macet selalu ada, masalahnya tinggal bagaimana menghindarkan kredit macet seminimal mungkin dan yang ternyata macet tetap dapat diatasi oleh bank.

fungsi dan syaraf bahasa indonesia

II. FUNGSI PARAGRAF
Fungsinya :
1. Kejelasan gagasan (tema) dalam paragraf.
Maksudnya, penulisan dapat menjelaskan atau menguraikan, penulis dapat menjelaskan atau menguraikan, yaitu suatu gagasan (tema) dimulai dan berakhir dalam paragraf.
2. Pengonsentrasian pikiran pada gagasan melalui perhentian.
Maksudnya, perhentian di akhir paragraf dapat lebih lama dilakukan pembaca agar dapat terkonsentrasi pada gagasan karangan itu.
3. Keindahan karangan itu.

III. Persyaratan Paragraf :
1. Kesatuan paragraf
Contoh yang jelas kesatuannya.
Setiap orang dilahirkan dan dibesarkan di dalam lingkungan keluarga. Tidak seorang pun yang tidak mengalami kehidupan seperti itu dalam keluarga. Pemeliharaan dan pembinaan seorang anak adalah perwujudan cinta kasih orang tua. Secara alamiah, orang tua mempunyai rasa cinta terhadap anak. Bagaimanapun keadaannya, orang tua tetap akan memelihara anaknya dengan penuh kasih sayang.


Yang tidak jelas kesatuannya:
(1) Seminggu yang lalu dipenuhi hari-hari pertarungan tidak hanya di medan pertempuran Iran-Irak tetapi juga di meja perundingan ekonomi internasional. (2) Dollar AS terus menyerang menyudut Yen Jepang dan Mark Jerman Barat. (3 ) AS sudah lama bekerjasama dengan Jerman Barat mengenai penempatan rudal-rudal berjarak sedang itu di beberapa kota di Jerman Barat. (4) Tetapi AS belum tentu akan menang, sementara korban yang menderita diperkirakan tidak hanya ekonomi Jepang dan Jerman Barat.

2. Koherensi
Maksudnya : keserasian hubungan timbal-balik antar kalimat dalam sebuah paragraf. Paragraf di bawah ini paragraf tanpa koherensi.
Besarnya dana untuk membangun AL yang dikeluarkan pemerintah Federal dalam periode tersebut dimaksudkan untuk mendukung politik luar negeri AS dalam periode yang sama, yaitu:
1. untuk menjamin dana memperluas ruang lingkup Doktrin Monroe terutama untuk wilayah Karibia,
2. untuk memperoleh wilayah Terusan Panama,
3. untuk menjamin “Politik Pintu Terbuka” terhadap Cina dan meningkatkan kepentingan AS di Timur Jauh, dan
4. untuk membantu memelihara keseimbangan kekuatan Eropa.

Kesatuan dalam paragraf itu, dibentuk tanpa koherensi tetapi melalui rincian gagasan utama,“dana dimaksudkan sebagai pendukung politik luar negeri AS”.
Kesatuan paragraf yang memerlukan koherensi itu dapat diperhatikan melalui hal-hal berikut:
a. Pengulangan (Repetisi)
Contoh :
Secara kultural kita terlihat dalam suatu situasi transformasi yang besar, pesat, dan menyeluruh. Besar karena ia terjadi secara serentak di hampir segala penjuru dunia, pesat karena ia terjadi dalam tempo yang kadang-kadang tak terkendali, menyeluruh karena ia menyangkut segala bidang kehidupan, pengetahuan, ekonomi, teknologi, politik, bahasa, kesenian, dan religi. Transformasi itu adalah transformasi kultural karena manusia adalah awal dan tujuan serta sebab dan penderita dari situasi itu.

Kata- kata transformasi, besar, pesat, dan menyeluruh disengaja pengulangannya guna penekanan gagasan pada kata-kata yang diulang tersebut.
a. Penggunaan kata ganti
Contoh :
Dengan penuh kepuasan Pak Marto mendatangi hamparan padi yang tumbuh dengan subur. Jerih payahnya tidak sia-sia. Beberapa bulan lagi ia akan memetik hasilnya. Sudah terbayang di matanya orang sibuk memotong, memanggul padi berkarung-karung, dan menimbunnya di dalam rumah. Tentu anaknya, Suni dan calon menantunya, Acep , akan ikut bergembira. Hasil panen yang berlimpah ittentu dapat menghantarkan mereka ke mahligai perkawinan.
c. Penggunaan Kata Penghubung
Penggunaan kata penghubung koherensi paragraf dilakukan penulis apabila :
1. kesulitan dalam menggunakan repetisi dan kata ganti,
2. paragraf itu tidak menekankan gagasan tetapi lebih bersifat memperjelas,
3. menjaga kesatuan paragraf dan juga memperhatikan kesinambungan dengan paragraf selanjutnya, dan
4. upaya penulis mengarahkan gagasan pada keterangan yang menyatakan hubungan tambahan, hubungan pertentangan, hubungan perbandingan, hubungan sebab, hubungan singkatan, hubungan tujuan, hubungan waktu, dan hubungan tempat.
Contoh :
Praktek menyampaikan gugatan jarang terjadi karena akan banyak memerlukan tenaga hakim. Oleh karena itu, rencana pemerintah melipatgandakan hakim baru akan banyak membantu mereka yang tidak mampu secara ekonomis di dalam pengadilan. Dengan demikian, kecenderungan masyarakat untuk berpendapat bahwa hukum hanya untuk orang kaya saja akan berkurang.

Pada contoh paragraf di atas kata penghubung yang digunakan adalah frase penghubung oleh karena itu, dan dengan demikian, sehingga cenderung menunjukkan hubungan sebab ( kausal ).

Beberapa kata penghubung :

1. pernyataan tambahan dengan menggunakan kata penghubung : tambahan, lebih lagi, selanjutnya, lalu, kemudian, disamping itu, lagi pula, juga berikutnya, kedua, ketiga, demikian juga dsb,
2. pernyataan pertentangan dengan kata penghubung : tetapi, melainkan, namun, bagaimana, walaupun, sebaliknya, meskipun, sama sekali, sekalipun dll,
3. pernyataan perbandingan : sebagaimana, sama sebanding, dalam hal yang demikian, dll,
4. pernyataan akibat ( hasil / kausal ) : sebab itu, oleh sebab itu, jadi, maka, akibatnya,
5. pernyataan tujuan : untuk maksud tersebut, supaya, sehingga,
6. pernyataan singkatan : pendeknya, singkatnya, pada umumnya, dengan kata lain, yakni, yaitu, sesunguhnya, misalnya, seperti, sudah dikatakan,
7. pernyataan waktu : sementara itu, segera, beberapa saat kemudian, sesudah itu, kemudian, sesaat,
8. Pernyataan tempat : di sini, di seberang, berdekatan, berdampingan dengan, dekat, dan lain-lain.

diksi bahasa indonesia

DIKSI BAHASA


Pengertiannya : Pilihan kata atau memilih kata yang tepat untuk menyampaikan gagasan atau pokok pikiran.

Pilihan kata ini termasuk : pemakaian gaya bahasa, penggunaan idiom, dan
situasi yang dihadapi.
Contoh akan memperjelas pengertian pillihan kata dalam konteks sebuah kalimat :
(1) Kami…. Kebenaran pendapat si A.
(a) menanyakan (b) bertanya (c) menanyai (d) tanyakan
(e) mempertanyakan
Jawaban yang benar benar (e) mempertanyakan karena pendapat itu sudah diketahui oleh si A tetapi masih diragukannya sehingga ingin minta penjelasan.

Ketepan Diksi dalam Bahasa
• Menyangkut banyak aspek: kaidah sintaksis, kaidah makna, kaidah sosial, dan kaidah karang-mengarang.

II. Denotasi dan Konotasi
Denotasi : makna yang sesuai dengan apa adanya yang dikandung sebuah kata secara objektif.
 Contoh : Anak itu nyaris tenggelam di sungai.
Anak itu hampir tenggelam di sungai.
Kedua kata yang dicetak miring mempunyai makna yang sama yaitu sesuatu yang hampir terjadi. Tetapi kata nyaris lebih wajar atau eksplisit daripada kata hampir karena berkaitan dengan sesuatu yang akan membahayakan.

Konotasi : makna yang mencakup keseluruhan hubungan (makna) dengan alam di luar bahasa.
Maksudnya : makna tambahan dari makna harfiah sebuah kata.
 Contoh : Perempuan itu sedang bunting tiga bulan.
Kata perempuan dan kata bunting dalam kalimat itu terkandung suatu makna (maksud) yang menimbulkan nilai rasa tertentu, yaitu nilai rasa “kurang baik”.
• Bila kata perempuan diganti dengan kata wanita ; dan kata bunting diganti dengan kata hamil, kalimat tersebut menjadi/mengandung makna konotasi, yaitu makna tambahan pada kata perempuan dan bunting.
 Contoh lain : Pedagang kaki lima dilarang berjualan di sepanjang jalan A.
Yani.
Kasihan, sekarang dia sebagai sampah masyarakat.
Jadi, makna konotasi adalah makna yang tidak umum atau makna yang tidak eksplisit seperti makna yang tidak umum pada makna denotasi.

III. Kata Umum dan Kata Khusus
Kata umum : kata yang banyak diterapkan dalam banyak hal, seperti pada kumpulan atau pada keseluruhan sifat benda.

Kata khusus : kata yang terbatas penggunaan pada beberapa sifat, beberapa bagian, dan beberapa benda saja.


Perhatikan contoh :
Apakah saudara berasal dari Sumatera? (kata umum)
Mereka bersaudara lima orang (kata khusus)

Kata umum Kata khusus

1. Pekerja
2. Pemantau
3. Teori
4. Perguruan tinggi

5. Kebijaksanaan
1. pegawai, karyawan
2. pemirsa, pemerhati
3. kaidah, dalil
4. universitas, institut, akademi, sekolah tinggi
5. politik, taktik, strategi Beberapa cara penempatan sinonim dalam suatu konteks, misalnya kalimat :
(1) Penggantian (substitusi)
 Contoh: Barangkali mereka tidak datang.
Mungkin mereka tidak datang.
Kata barangkali dan mungkin sinonim.
(2) Pertentangan (kontradiksi)
Sebuah kata yang dapat dipertentangkan dengan sejumlah kata akan menghasilkan sinonim.
Kata salah bertentangan dengan kata betul, benar, sesuai, tepat.
(3) Makna tambahan (konotasi)
Apabila sejumlah kata mempunyai makna yang sama, tetapi nilai rasa makna itu berlainan, kata-kata demikian termasuk bersinonim.
Contoh : bodoh, tolol, goblok, pandor, bebal.
• Penempatan sinonim dapat ditempatkan dalam kalimat frasa, kata dapat juga terdapat dalam bentuk morfem.

(1) Sinonim antar kalimat :
Kami diundang oleh si A (pasif)
Si A mengundang kami (aktif)

(2) Sinonim antar frasa :
Mobil baru itu tabrakan.
Mobil yang baru itu tabrakan.

(3) Sinonim antar kata : (4) Sinonim antar morfem :
Ayah cinta kalian. Adik mencoret bukuku.
Ayah sayang pada kalian. Adik mencoret buku saya.

 Contoh dalam kalimat :
a. Homonim
Dukun itu bisa menghilangkan bisa ular
a. Homograf
Bapak itu memberi tahu kami bagaimnana cara membuat tahu dan
tempe.
b. Homofon
Mereka masih sangsi atas sanksi yang diterapkan demikian.

V. Ungkapan (Idiom)
Pengertiannya : bentuk bahasa berupa gabungan kata yang makna
katanya tidak dapat diuraikan dari makna unsur gabungan.
Perihal yang menyangkut ungkapan (idiom): idiomatik
 Misalnya : kambing hitam yang berarti “ orang yang dipersalahkan ”
tidak ada kaitannya dengan (binatang) kambing yang (berwarna) berbulu hitam.
Pada dasarnya, ungkapan itu berupa gabungan kata yang salah satunya tidak dapat dihilangkan begitu saja.
Contoh: Kami datang bertepatan hari ulang tahunnya. salah.
Kami datang bertepatan dengan hari ulang tahunnya. benar

judul penulisan b.indonesia

Halaman Judul
Judul adalah : nama sebuah karangan (baik karangan ilmiah maupun karangan nonilmiah )

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun dan menata halaman judul :
1. Judul menarik perhatian pembaca atau bersifat persuasif.
2. Judul menggambarkan isi karangan secara menyeluruh sehingga ( dalam karangan ilmiah ) pemberian judul didasarkan atas topik karangan.
3. Dalam karangan ilmiah antara judul luar ( bersampul karton ) dan judul dalam harus sama, termasuk dalam tata letaknya.
4. Dalam karya ilmiah bagian-bagian yang ada pada halaman judul diselaraskan dengan gaya selingkung ( home style ) yang ada pada masing-masing Fakultas / Universitas.
5. Bagian-bagian yang harus ada dalam halaman judul :
a) Judul ( diketik kapital balok );
b) Etiket judul dalam bentuk kalimat ( hanya skripsi );
c) Nama penulis ( kapital ) dan nomor pokok;
d) Logo Universitas;
e) Data akademis berupa program studi, jurusan, fakultas, universitas, nama kota, dan tahun (kapital );
f) Tidak boleh dihiasi gambar, vinyet, dan variasi lainnya ;
g) Sebaiknya hindari penggunaan “ ditulis oleh “, “ nama : …”, “ NRP :….”















Contoh :








































Halaman Pengesahan
 Halaman pengesahan ini merupakan tata cara adminitratif dalam penulisan ilmiah seperti skripsi :
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Penulisan judul skripsi dengan huruf kapital.
2. Penulisan nama pembimbing ( materi dan teknis ), pembaca skripsi, dan ketua program jurusan / dekan.


3. Penulisan nama-nama tersebut secara benar dan lengkap dengan gelar akademisnya serta tata letak yang sesuai dengan gaya selingkung.
4. Skripsi diajukan ke sidang akademis setelah disetujui oleh pembimbing dan pembaca atau setelah layak uji.
5. Penulisan skripsi disahkan lulus setelah diuji di sidang terbuka / tertutup dan berhak mendapatkan ijazah sarjana jika telah ditandatangani semua nama yang tercantum.
6. Ikutilah yang di lingkup Fakultas / Universitas.
7. Perhatikanlah contoh-contoh berikut.
8. Halaman pengesahan ini tidak diperlukan dalam makalah ilmiah.

Contoh Format Ketikan Halaman Pengesahan
















Kata Pengantar
 Kata pengantar diharuskan ada dalam makalah skripsi dan makalah resmi yang berupa tugas.

Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Penjelasan tentang pelaksanaan tugas pembuatan karya ilmiah.
2. Penjelasan tentang adanya tugas pembuatan karya ilmiah.
3. Penyebutan nama-nama memberikan bantuan, bimbingan, dan arahan dari seseorang, sekelompok orang, atau organisasi / lembaga.
4. Penyampaian ucapan terima kasih secara tulus kepada pihak-pihak yang membantu yang diawali dari rahmat Tuhan Yang Mahakuasa.
5. Penyebutan nama, kota, bulan, tahun, dan nama penulis, tanpa dibubuhi tanda tangan.
6. Mohon diindahkan pemakaian kaidah bahasa Indonesia secara benar.
7. Penulis membuka diri untuk kritik dan saran karangan tersebut dan kata ganti orang yang digunakan adalah saya, penulis, dan kami.


Contoh Format Ketikan Kata Pengantar
 Hal-hal yang sudah ditulis dalam kata pengantar jangan sampai terulang lagi dalam ( bab I ) pendahuluan. Kata pengantar tidak sama dengan kata sambutan.























DAFTAR ISI
 Adalah bagian karangan yang memuat isi karangan ilmiah secara lengkap ( dari judul sampai dengan riwayat hidup penulis ).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun daftar isi :
1. Susunan daftar isi secara taat asas ( konsisten ) baik penomoran maupun penulisan huruf bab dan sub-subbab.
2. Antarbagian dan bab serta antar subbab harus sejajar ( paralel dalam penataan kata ).
3. Rincian sub-subbab maksiamal 4 angka.
4. Tentukan ciri pembeda antara subbab dan sub-subbab.
5. Sebaiknya disertai halaman rujukan setiap bab atau subbab dengan mengatur kesejajaran melalaui titik-titik.
6. Tajuk bab, subbab dan sub-subbab sama betul dengan dengan halaman yang diacu pada bagian isi karangan.
7. Daftar isi harus ada dalam skripsi dan makalah yang lebih dari 10 halaman.

Contoh Format Ketikan Daftar Isi







































BAB ISI KARANGAN
 merupakan isi karangan yang menguraikan pokok masalah sejelas-jelasnya dan setuntas-tuntasnya.

• Penulis perlu memperhatkan :
1. Kejelasan uraian masalah yang dibahas;
2. Analisisis, interpretasi, dan sintesis masalah yang dikemukakan;
3. Bantuan uraian melalui contoh, bagan, diagram, lajur, grafik, dan foto;
4. Uraian dari bab / subbab ke bab / subbab koherensial;
5. Ketepatan dan kekonsistenan dalam pengetikan seperti penggunaan mesin tik / komputer, jenis kertas dan ukuran, dan jarak spasi;
6. Kekonsistenan dalam teknik kutipan, catatan pustaka, dan catatan kaki;
7. Penggunaan kaidah bahasa Indonesia secara benar.






 Contoh Format Bab Isi :

















1. butir yang dianggap menyimpulkan isi karangan.
BAB KESIMPULAN
 Dalam menyusun kesimpulan perlu memperhatikan :
2. Isi kesimpulan benar-benar menggambarkan isi karangan yang telah terurai dalam bab isi.
3. Kesimpulan merupakan jawaban dari (bab) pendahuluan yang mengemukakan masalah.
4. Kesimpulan hendaknya menimbulkan banyak kesan dan informasi yang amat berharga bagi pembaca.
5. Kesimpulan dapat disertai saran (sebagai subbab) yang amat berharga bagi pembaca.
Kesimpulan sebagai bab penutup isi karangan dapat berupa uraian seperti esai dan dapat pula berupa rincian dengan beberapa

 Format Kesimpulan












 BAB PENDAHULUAN

Bagian karangan, berupa awal bab karangan, yang mengantarkan pembaca ke dalam analisis dan sintesis suatu masalah / topik yang terdapat dalam bagian bab isi sebenarnya.

 Hal – hal yang perlu diperhatikan :

1. Janganlah mengacu pada judul karangan sebagai rujukan, seperti ”Berdasarkan judul yang…………..”.
2. Jangan sampai terjadi pengulangan isi tugas sebagai isi dalam kata pengantar.
3. Hindari sikap rendah diri atau kurang harga diri yang akan mengecewakan pembaca seperti, “kurang ahli “, bersifat coba – coba “, “ belum berpengalaman “, dan yang senada singkatnya, janganlah menulis jika anda tidak siap atau kurang memahami masalah.
4. Penulis tidak memperlihatkan sikap mendua seperti adanya tersirat “ keraguan “ atau “ kebimbangan “ dalam bernalar dan seharusnya memperlihatkan ketegasan sikap.
5. Sebaiknya jangalah memulai bab ini dengan kutipan atau definisi yang akan yang diambil dari kamus yang seakan – akan menimbulkan kesan bahwa penulis belum memulai karangan dengan kata – kata sendiri.
6. Hindari pula kalimat tanya retoris dalam awal penulisan bab ini karena akan terlihat adanya pengulangan yang tidak diperlukan serta menimbulkan kesulitan membuat kalimat berikutnya.
7. Penulis harus mengindahkan penerapan kaidah tata bahasa dan ejaan serta teknik peulisan ragam karangan ilmiah.
8. Perbandingan halaman pendahuluan dan isi karangan 1 ( satu ) berbanding 6/8 halaman ( untuk makalah 2 atau 3 halaman saja ).
Isi Pendahuluan mencakup
1. Latar belakang masalah dan permasalahan.
a. Alasan yang mendukung penulisan.
b. Kegunaan praktis hasil analisis.
c. Pengetahuan tentang studi kepustakaan yang serupa.
d. Pengungkapan masalah utama secara jelas/ eksplisit.
2. Tujuan Penulisan
a. Sasaran utama yang hendak dicapai.
b. Upaya pokok yang harus diperlakukan sesuai dengan tugas.
3. Ruang lingkup masalah
a. Batasan masalah yang akan dibahas.
b. Rincian masalah yang akan dibahas sesuai dengan ragangan.
c. Ketaatasasan ( kekonsistenan) dalam penggunaan istilah.
4. Dasar teori yang akan diterapkan ( hipotesis )
a. Prinsip teori (pendapat / hukum / dalil / opini) yang digunakan.
b. Alasan penulis menggunakan teori tersebut.
5. Sumber data / fakta penulisan
a. Kriteria dalam penentuan jumlah data.
b. Kriteria penentuan representatif ( mutu data ).
c. Kesesuaian data dengan sifat dan tujuan analisis.
6. Metode dan teknik penulisan
a. Metode adalah cara penulis menyajikan karangan seperti deskriptif, komparatif, atau eksperimental.
b. Teknik penulisan yang berkaitan dengan cara pengumpulan data seperti wawancara, observasi, daftar isian, dan kuesioner.







7. Sistematika penulisan
a. Gambaran singkat karangan (pendahuluan, isi sebenaranya, dan kesimpulan).
b. Penjelasan nomor kode ( kalau ada )

Ke-7 penduhuluan di atas, terdapat dalam penulisan skripsi dan tesis, tetapi ada juga yang tidak menerapkan semuanya. Dalam penulisan makalah resmi yang berupa tugas, anda diharuskan memuat isi pendahuluan 1- 4.
Contoh Format Ketikan Pendahuluan

























Contoh tahapan penyusunan ragangan ( terapan )
1. Penetapan topik, tujuan dan tesis
Topik : Upaya penanggulangan virus komputer pribadi
Tujuan : Untuk menjelaskan cara-cara penanggulangan virus komputer
Tesis : Sebagian besar masyarakat pemakai komputer di Indonesia telah
mengetahui adanya virus komputer, akan tetapi pengetahuan mereka
tentang cara – cara penanggulangan virus komputer belum lengkap dan
tuntas sehingga perlu diberitahu bagaimana cara penanggulangannya.




















2. Inventarisasi topik utama dari tesis
a. Pengertian virus
b. Penanggulangan virus komputer
c. Pembasmian virus komputer
d. Pelacakan virus komputer
e. Kisah munculnya virus
f. Viru komputer
g. Jenis virus yang ada
h. Sejarah virus komputer
i. Bahaya virus komputer
3. Evaluasi semua topik ( kecil terinci ) di tahap kedua.
Dasar evaluasi yang diperhatikan adalah dari segi
a. kesatuan,
b. koherensi,
c. kelogisan, dan
d. kedisplinan ( sesuai dengan bidang ilmu )

4. Perumusan kembali tesis dengan sempurna ( mungkin ada perubahan )
Tesis : Sebagian besar komponen komputer di Indonesia telah mengetahui adanya virus komputer belum mendalam sehingga perlu diberitahu cara penanggulangan tersebut.










5. Penyusunan ragangan sementara
I. Pendahuluan
II. Virus Komputer di Indonesia
II.1 Pengertian Virus
II.2 Jenis – jenis Virus
III. Penanggulangan Virus
IV. Pelacakan Virus
V. Pembasmian Virus
VI. Sejarah Virus Komputer
VII. Penutup / Kesimpulan
6. Penyusunan tesis ( akhir ) dengan sempurna
Tesis : Sebagian besar komponen komputer di Indonesia telah lama mengetahui adanya virus di dalam komputer, tetapi cara penanggulangan atau pembasmian virus komputer itu belum banyak diketahui oleh konsumen komputer.

7. Susunan ragangan formal ( siap pakai )
I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah dan Permasalahan
I.2 Tujuan Penulisan
I.3 Ruang Llingkup Masalah
I.4 Dasar Teori Yang Dipakai
II. VIRUS KOMPUTER
II.1 Pengertian Virus Komputer
II.2 Bagian – Bagian Virus Komputer
II.3 Jenis – Jenis Virus Komputer
II.3.1 Jenis – Jenis Virus Berdasarkan Cara Penanggulangannya
II.3.2 Jenis Virus Berdasarkan Tingkat Keganasannya.
II.3.3 Jenis Virus Berdasarkan Tujuannya
II.3.4 Jenis Virus Berdasarkan Sistem Operasinya


III. PENANGGULANGAN VIRUS KOMPUTER
III.1 Pelacakan Virus Komputer
III.1.1 Virus Komputer di Memori Program
III.1.2 Virus Komputer di Memori Tanpa Program
III.1.3 Virus Komputer di Disket
III.1.4 Virus Komputer di Hardisk
III.2 Pembasmian Virus Komputer
III.2.1 Virus Komputer dengan Program Serum
III.2.2 Virus Komputer tanpa Program Serum
IV KESIMPULAN

PENULISAN KARYA ILMIAH
( KONVENSI NASKAH )

 Konvensi Naskah : organisasi karangan ilmiah yang membuat 15 bagian
karangan.
Berikut ini rincian ke 15 bagian karangan ilmia:
Bagian I : Pelengkap pendahuluan yang terdiri atas
1. Judul ( judul luar dan dalam )
2. Halaman persembahan
3. Halaman penegesahan
4. Kata pengantar
5. Catatan
6. Daftar isi
7. Daftar tabel
Bagian II : Tubuh / inti karangan yang terdiri atas
1. Pendahuluan
2. Isi sebenarnya
3. Kesimpulan




Bagian III : Pelengkap kesimpulan yang terdiri atas
1. Daftar pustaka ( Bibliografi )
2. Lampiran ( Apendiks )
3. Indeks
4. Abstrak
5. Riwayat Hidup penulis
Sebelum melakukan pengetikan makalah/skripsi, penulis perlu memperhatikan “ prasarana “ teknis pengetikan. Hal teknis ini adalah :
1. Ketebalan kertas 70/80 mg,
2. Jenis kertas HVS ( polos putih ) berukuran kuarto (22 X 28 cm),
3. Format ketikan :
 batas ke kiri 4 cm dan ke kanan 2 cm
 batas ke atas 3,5 cm dan dan ke bawah 3 cm
 batas ke atas 6,5 cm setiap awal bab / bagian karangan,
4. Berupa ketikan dan komputer,
5. Jarak ketikan 2 ( dua ) spasi,
6. Makalah disampul plastik ( transparan ),
7. Ketikan nomor halaman pojok kanan atas atau bawah tanpa titik,

8. Penyerahan makalah yang asli tepat waktu,
9. Makalah dilengkapi dengan tesis dan ragangan, dan
10. Kaidah bahasa Indonesia diindahkan,
11. Halaman pelengkap pendahuluan dengan angka romawi kecil dan bagian pendahuluan sampai riwayat hidup penulis digunakan angka arab.

Bagian 17 tentang format pengetikan ini dimulai dari lembar pertama yaitu halaman akhir yaitu halaman judul sampai dengan halaman akhir yaitu halaman riwayat hidup penulis. Di samping itu, setiap awal bagian atau awal bab karangan harus halaman baru dan jarak 6,5 cm dari batas atas.

Rabu, 31 Maret 2010

diksi bahasa indonesia

Cara penyempitan topik :
1. Tetapkan terlebih dahulu topik sentral seperti elektro, arsitektur, metalurgi, bahasa, psikologi, ekonomi, sastra, manajemen, akuntansi, dan politik,
2. Perhatikanlah persyaratan topik ( lihat bagan 2 ),
3. Lakukanlah penyempitan topik dengan salah satu cara sebagai berikut :
a. Diagnosa pohon,
b. Ajuan Pertanyaan,
c. Pengumpulan ide,
d. Alternatif.